Sabtu, 21 Februari 2009
Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri, mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian 'Astronomi' dan institut, yang paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya, penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.
Astronomi Bulan: kawah besar ini adalah Daedalus, yang dipotret kru Apollo 11 selagi mereka mengedari Bulan pada 1969. Ditemukan di tengah sisi gelap bulan Bumi, garis tengahnya sekitar 93 km
Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmusemu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.
Daftar isi[sembunyikan]
1 Cabang-cabang astronomi
1.1 Berdasarkan subyek atau masalah
1.2 Cara-cara mendapatkan informasi
2 Sejarah Singkat
3 Astronomi di Indonesia
3.1 Masyarakat tradisional
3.2 Masa modern
4 Lihat pula
5 Alat astronomi
6 Pranala luar
6.1 Organisasi Dalam Negri
6.2 Organisasi Internasional
6.3 Referensi
7 Catatan kaki
//
[sunting] Cabang-cabang astronomi
Astronomy dipisahkan ke dalam cabang. Perbedaan pertama di antara 'teoretis dan observational' astronomi. Pengamat menggunakan berbagai jenis alat untuk mendapatkan data tentang gejala, data yang kemudian dipergunakan oleh teoretikus untuk 'membuat' teori dan model, menerangkan pengamatan dan memperkirakan yang baru.
Bidang yang dipelajari juga dikategorikan menjadi dua cara yang berbeda: dengan 'subyek', biasanya menurut daerah angkasa (misalnya Astronomi Galaksi) atau 'masalah' (seperti pembentukan bintang atau kosmologi); atau dari cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (pada hakekatnya, daerah di mana spektrum elektromagnetik dipakai). Pembagian pertama bisa diterapkan kepada baik pengamat maupun teoretikus, tetapi pembagian kedua ini hanya berlaku bagi pengamat (dengan tak sempurna), selama teoretikus mencoba menggunakan informasi yang ada, di semua panjang gelombang, dan pengamat sering mengamati di lebih dari satu daerah spektrum.
[sunting] Berdasarkan subyek atau masalah
Astronomi Planet, atau Ilmu Pengetahuan Planet: setan debu Mars. Dipotret oleh NASA Global Surveyor di orbit Mars, coret gelap yang panjang terbentuk oleh gerakan gumpalan atmosfer Mars yang berputar-putar (dengan kesamaan ke angin tornado darat). Setan debu (tempat hitam) mendaki tembok kawah. Coret di setengah tangan benar gambar adalah bukit pasir di lantai kawah.
Astrometri: penelitian posisi benda di langit dan perubahan posisi mereka. Mendefinisikan sistem koordinat yang dipakai dan kinematika dari benda-benda di galaksi kita.
Kosmologi: penelitian alam semesta sebagai seluruh dan evolusinya.
Fisika galaksi: penelitian struktur dan bagian galaksi kita dan galaksi lain.
Astronomi ekstragalaksi: penelitian benda (sebagian besar galaksi) di luar galaksi kita.
Pembentukan galaksi dan evolusi: penelitian pembentukan galaksi, dan evolusi mereka.
Ilmu planet: penelitian planet dan tata surya.
Fisika bintang: penelitian struktur bintang.
Evolusi bintang: penelitian evolusi bintang dari pembentukan mereka sampai akhir mereka sebagai bintang sisa.
Pembentukan bintang: penelitian kondisi dan proses yang menyebabkan pembentukan bintang di dalam awan gas, dan proses pembentukan itu sendiri.
Juga, ada disiplin lain yang mungkin dipertimbangkan sebagian astronomi:
Arkheoastronomi
Astrobiologi
Astrokimia
Lihat daftar topik astronomi untuk daftar halaman yang berhubungan dengan astronomi yang lebih lengkap.
[sunting] Cara-cara mendapatkan informasi
Dalam astronomi, informasi sebagian besar didapat dari deteksi dan analisis radiasi elektromagnetik, foton, tetapi informasi juga dibawa oleh sinar kosmik, neutrino, dan, dalam waktu dekat, gelombang gravitasional (lihat LIGO dan LISA). Pembagian astronomi secara tradisional dibuat berdasarkan rentang daerah spektrum elektromagnetik yang diamati:
Astronomi optikal menunjuk kepada teknik yang dipakai untuk mengetahui dan menganalisa cahaya pada daerah sekitar panjang gelombang yang bisa dideteksi oleh mata (sekitar 400 - 800 nm). Alat yang paling biasa dipakai adalah teleskop, dengan CCD dan spektrograf.
Astronomi inframerah mengenai deteksi radiasi infra merah (panjang gelombangnya lebih panjang daripada cahaya merah). Alat yang digunakan hampir sama dengan astronomi optik dilengkapi peralatan untuk mendeteksi foton infra merah. Teleskop Ruang Angkasa digunakan untuk mengatasi gangguan pengamatan yang berasal dari atmosfer.
Astronomi radio memakai alat yang betul-betul berbeda untuk mendeteksi radiasi dengan panjang gelombang mm sampai cm. Penerimanya mirip dengan yang dipakai dalam pengiriman siaran radio (yang memakai radiasi dari panjang gelombang itu).
Lihat juga Teleskop Radio.
Astronomi energi tinggi
Astronomi Ekstragalaktik: lensa gravitasi. Gambar dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble ini menunjukkan beberapa obyek yang terbentuk dengan putaran yang biru yang sebetulnya adalah beberapa tampilan dari galaksi yang sama. Mereka sudah digandakan oleh efek lensa gravitasi kelompok galaksi yang berwarna kuning, bulat panjang dan spiral di dekat pusat foto. Pelensaan gravitasi dihasilkan oleh bidang gravitasi kelompok yang luar biasa masif sehingga mampu melengkungkan cahaya. Beberapa akibatnya adalah memperbesar ukuran obyek yang dilensakan, menjadikan terang dan mengubah tampilan benda yang lebih jauh.
Astronomi optik dan radio bisa dilakukan di observatorium landas bumi, karena atmosfer transparan pada panjang gelombang itu. Cahaya infra merah benar-benar diserap oleh uap air, sehingga observatorium infra merah terpaksa ditempatkan di tempat kering yang tinggi atau di angkasa.
Atmosfer kedap pada panjang gelombang astronomi sinar-X, astronomi sinar-gamma, astronomi ultra violet dan, kecuali sedikit "jendela" dari panjang gelombang, astronomi infra merah jauh, oleh sebab itu pengamatan bisa dilakukan hanya dari balon atau observatorium luar angkasa.
[sunting] Sejarah Singkat
Pada bagian awal sejarahnya, astronomi memerlukan hanya pengamatan dan ramalan gerakan benda di langit yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Rigveda menunjuk kepada ke-27 rasi bintang yang dihubungkan dengan gerakan matahari dan juga ke-12 Zodiak pembagian langit. Yunani kuno membuatkan sumbangan penting sampai astronomi, di antara mereka definisi dari sistem magnitudo. Alkitab berisi sejumlah pernyataan atas posisi tanah di alam semesta dan sifat bintang dan planet, kebanyakan di antaranya puitis daripada harfiah; melihat Kosmologi Biblikal. Pada tahun 500 M, Aryabhata memberikan sistem matematis yang mengambil tanah untuk berputar atas porosnya dan mempertimbangkan gerakan planet dengan rasa hormat ke matahari.
Penelitian astronomi hampir berhenti selama abad pertengahan, kecuali penelitian astronom Arab. Pada akhir abad ke-9 astronom Muslim al-Farghani (Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani) menulis secara ekstensif tentang gerakan benda langit. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad ke-12. Pada akhir abad ke-10, observatorium yang sangat besar dibangun di dekat Teheran, Iran, oleh astronom al-Khujandi yang mengamati rentetan transit garis bujur Matahari, yang membolehkannya untuk menghitung sudut miring dari gerhana. Di Parsi, Umar Khayyām (Ghiyath al-Din Abu'l-Fath Umar ibn Ibrahim al-Nisaburi al-Khayyami) menyusun banyak tabel astronomis dan melakukan reformasi kalender yang lebih tepat daripada Kalender Julian dan mirip dengan Kalender Gregorian. Selama Renaisans Copernicus mengusulkan model heliosentris dari Tata Surya. Kerjanya dipertahankan, dikembangkan, dan diperbaiki oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler. Kepler adalah yang pertama untuk memikirkan sistem yang menggambarkan dengan benar detail gerakan planet dengan Matahari di pusat. Tetapi, Kepler tidak mengerti sebab di belakang hukum yang ia tulis. Hal itu kemudian diwariskan kepada Isaac Newton yang akhirnya dengan penemuan dinamika langit dan hukum gravitasinya dapat menerangkan gerakan planet.
Bintang adalah benda yang sangat jauh. Dengan munculnya spektroskop terbukti bahwa mereka mirip matahari kita sendiri, tetapi dengan berbagai temperatur, massa dan ukuran. Keberadaan galaksi kita, Bima Sakti, dan beberapa kelompok bintang terpisah hanya terbukti pada abad ke-20, serta keberadaan galaksi "eksternal", dan segera sesudahnya, perluasan Jagad Raya dilihat di resesi kebanyakan galaksi dari kita.
Kosmologi membuat kemajuan sangat besar selama abad ke-20, dengan model Ledakan Dahsyat yang didukung oleh pengamatan astronomi dan eksperimen fisika, seperti radiasi kosmik gelombang mikro latar belakang, Hukum Hubble dan Elemen Kosmologikal. Untuk sejarah astronomi yang lebih terperinci, lihat sejarah astronomi.
[sunting] Astronomi di Indonesia
[sunting] Masyarakat tradisional
Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Keterbatasan pengetahuan membuat kebanyakan pengamatan dilakukan untuk keperluan astrologi. Pada tingkatan praktis, pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa misalnya dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.
Nama-nama asli daerah untuk penyebutan obyek-obyek astronomi juga memperkuat fakta bahwa pengamatan langit telah dilakukan oleh masyarakat tradisional sejak lama. Lintang Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam. Gubuk Penceng adalah nama lain untuk rasi Salib Selatan dan digunakan oleh para nelayan Jawa tradisional dalam menentukan arah selatan. Joko Belek adalah sebutan untuk Planet Mars, sementara lintang kemukus adalah sebutan untuk komet. Sebuah bentangan nebula raksasa dengan fitur gelap di tengahnya disebut sebagai Bimasakti.
[sunting] Masa modern
Pelaut-pelaut Belanda pertama yang mencapai Indonesia pada akhir abad-16 dan awal abad-17 adalah juga astronom-astronom ulung, seperti Pieter Dirkszoon Keyser dan Frederick de Houtman. Lebih 150 tahun kemudian setelah era penjelajahan tersebut, misionaris Belanda kelahiran Jerman yang menaruh perhatian pada bidang astronomi, Johan Maurits Mohr, mendirikan observatorium pertamanya di Batavia pada 1765. James Cook, seorang penjelajah Inggris, dan Louis Antoine de Bougainville, seorang penjelajah Perancis, bahkan pernah mengunjungi Mohr di observatoriumnya untuk mengamati transit Planet Venus pada 1769[1].
Ilmu astronomi modern makin berkembang setelah pata tahun 1928, atas kebaikan Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh di daerah Malabar, dipasang beberapa teleskop besar di Lembang, Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal Observatorium Bosscha, sebagaimana dikenal pada masa kini.
Penelitian astronomi yang dilakukan pada masa kolonial diarahkan pada pengamatan bintang ganda visual dan survei langit di belahan selatan ekuator bumi, karena pada masa tersebut belum banyak observatorium untuk pengamatan daerah selatan ekuator.
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, bukan berarti penelitian astronomi terhenti, karena penelitian astronomi masih dilakukan dan mulai adanya rintisan astronom pribumi. Untuk membuka jalan kemajuan astronomi di Indonesia, pada tahun 1959, secara resmi dibuka Pendidikan Astronomi di Institut Teknologi Bandung.
Pendidikan Astronomi di Indonesia secara formal dilakukan di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Departemen Astronomi berada dalam lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan secara langsung terkait dengan penelitian dan pengamatan di Observatorium Bosscha.
Lembaga negara yang terlibat secara aktif dalam perkembangan astronomi di Indonesia adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Selain pendidikan formal, terdapat wadah informal penggemar astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, serta tersedianya planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang selalu ramai dipadati pengunjung.
Perkembangan astronomi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, dan mendapat pengakuan di tingkat Internasional, seiring dengan semakin banyaknya pakar astronomi asal Indonesia yang terlibat dalam kegiatan astronomi di seluruh dunia, serta banyaknya siswa SMU yang memenangi Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade Astronomi Asia Pasific.
Demikian juga dengan adanya salah seorang putra terbaik bangsa dalam bidang astronomi di tingkat Internasional, yaitu Profesor Bambang Hidayat yang pernah menjabat sebagai vice president IAU (International Astronomical Union).
Senin, 26 Januari 2009
Spy Rovio


Spesifikasi
Software : NorthStar Navigation System
Baterai : Built-in rechargeable
Kamera : VGA cmos sensor
Lampu led : pada speaker, mikrofon
Fitur : built-in USB and Wi-Fi
Kompabilitas : PC : Pentium 3 or higher ; operating system : Windows XP / Vista
Memori ; 256MB RAM
Selasa, 23 Desember 2008
Sosok Cewek Gua
Minggu, 21 Desember 2008
Grains of Sand on a Vast Beach

There are untold trillions of galaxies – clouds of stars, planets, moons, comets, asteroids, gas, dust – strewn across the Universe like grains of sand on a vast beach. From our earliest times we've looked up and wondered what's out there.
Hubble Space Telescope records the light arriving at Earth from an exploding star
Stars. Our Sun is a star. A star is a sphere of hot glowing gas, a single ball of fire in space, often a million of miles or more in diameter.
The stuff of some stars is 10,000 times as thin as Earth's air at sea level. Other stars are so dense a cupful of material would weigh tons on Earth.
Inside, stars have temperatures measured in millions of degrees. At their surfaces, temperatures up to 55,000 degrees are common.
Stars are a long way off, yet all stars visible from Earth, even with telescopes, are within our own Milky Way galaxy. Proxima Centauri, the star nearest Earth, is so far away it's only a pinpoint of light in the largest telescopes on Earth.
Many other stars may be ringed by planets and other small bodies, just as our Sun has its Solar System of planets, moons, comets and asteroids.
Planets reflect starlight, while stars shine with their own light. Stars differ in size, brightness and color.
From our perspective on Earth, stars seem to hold the same positions in the sky year after year. Over many centuries they do appear to move, however, as our Solar System slowly circles the core of our own Milky Way galaxy.
Sombrero Galaxy is far away at a distance of 28 million lightyears from Earth. It's not really in our neighborhood.
Neighborhood galaxies. A galaxy is a vast island of stars floating through the Universe – millions or billions of stars attracted to each other and held close by their gravity.
Astronomers have seen galaxies of many different shapes and sizes. Most common are flat pinwheel spirals, egg-shaped ellipticals, and oddly-shaped irregulars.
The galaxies most widely known are Andromeda Galaxy, Large Magellanic Cloud galaxy and our own Milky Way galaxy
MILKY WAY. Our Earth circles the Sun which is one star among 100 billion in the Milky Way galaxy.
Viewed from afar, the Milky Way would look like a pinwheel, a spiral, a flat disk 100,000 lightyears in diameter with a bulge at the center.
A lightyear is the distance light travels through space in one year, about 5.9 trillion miles.
ANDROMEDA. The Andromeda Galaxy, also known as M-31, is the spiral galaxy nearest to our Milky Way and the brightest galaxy in Earth's sky.
Bigger than the Milky Way, it contains 300 billion individual stars in a disk 180,000 lightyears in diameter. Andromeda Galaxy is 2.2 million lightyears from Earth.
MAGELLANIC CLOUDS. In 1987, the world focused on an irregular galaxy, the Large Magellanic Cloud, when a star in that
galaxy exploded into view as the supernova closest to Earth in 400 years. The outburst was labeled Supernova 1987a.The Large Magellanic Cloud is a galaxy neighbor of our Milky Way galaxy – only 163,000 lightyears from Earth. Light from Supernova 1987a left the Large Magellanic Cloud 163,000 years ago traveling at 186,200 miles per second.
The Large Magellanic Cloud is only 39,000 lightyears in diameter, less than half as wide as the Milky Way.
The Large Magellanic Cloud has a smaller companion galaxy known as the Small Magellanic Cloud. The Small Magellanic Cloud is under 20,000 lightyears in diameter and is 196,000 lightyears from Earth.
Some astronomers have wondered if the Small Magellanic Cloud they see isn't two small galaxies lined up in their telescopes. If so, astronomers would call the third galaxy the Mini Magellanic Cloud. It might be some 230,000 lightyears from Earth.
At any rate, astronomers think the Large Magellanic Cloud may have been closer to Earth once upon a time as it drifted past the Milky Way a billion years ago.
A trail of gas and dust, which astronomers call the Magellanic Stream, extends across our sky. The Magellanic Stream probably is matter ripped away from the Large Magellanic Cloud by Milky Way gravity.
It's not clear whether the Magellanic Clouds are satellite galaxies of the Milky Way, forever circling us, or simply passers-by on a one-time chance encounter as they make their way through the Universe.
While astronomers ponder clusters and super-clusters of galaxies, even stranger objects wash up from time to time on the vast beach. Supernovas, neutron stars, pulsars, black holes, quasars and more...
Cygnus Loop Supernova as seen by the Hubble Space Telescope.

Supernovas. Astronomers were riveted when the previously-unremarkable star known as Sanduleak 69.202 exploded in a fiery death as Supernova 1987a.
After it blinked into view as the supernova closest to Earth in 400 years, Europeans and Americans checked satellite views of the event. Russians at the orbiting Mir space station photographed it. U.S. and Australian scientists fired rockets, floated instrumented balloons and flew an observatory airplane, all to get as high as possible for a better view of the brilliant Supernova 1987a.
Neutron stars. A supernova is the extraordinarily powerful death explosion of a massive star. The star brightens for a short time, then usually reduces to a small remnant – a neutron star.
Astronomers wonder if a neutron star, maybe even a pulsar, hasn't formed at the heart of Supernova 1987a.
Pulsars. During a supernova explosion, the star collapses inward, explodes, spews out gas and dust, and collapses again into a small heavy core, a neutron star.
If the neutron star spins and radiates energy toward Earth in blips – like a lighthouse beacon – it is referred to as a pulsar.
A pulsar is so crushed by the weight of its own gravity, a thimbleful would weigh a million tons.
Astronomers have been watching one pulsar, 12,000 lightyears from Earth, which has such a regular spin it could replace atomic clocks as our most reliable timepiece. Known by its sky-map location, 1937+21, the pulsar spins at a steady 642 twirls a second.
The official U.S. clock in a laboratory at Boulder, Colorado measures natural vibrations in cesium atoms to mark time. However, they do fluctuate. Pulsar 1937+21, on the other hand, apparently hasn't deviated at all since 1982.
Hubble Space Telescope records the beauty surrounding the black hole at the heart of the Circinus Galaxy.
See more images of the beauty in deep space recorded by the Hubble Space Telescope »
Black holes. At the end of a total collapse of a star or several stars, matter is crushed into a black hole, a very small and extremely massive body, even more densely packed than a neutron star.
It is so dense, its gravity so intense, light can't escape – it's invisible. However, a black hole's presence can be seen in its interaction with normal space around it.
If a black hole sucks matter away from a nearby star, a fountain of X-rays might spew out from the event horizon, the boundary of a black hole.
Other stories: Dying Stars » Diamond Star »
Our black hole. Black holes once seemed to be only faraway objects, but in recent years astronomers have begun to pick up clues that one may be lurking at the heart of our Milky Way galaxy.
It looks like a gargantuan black hole near the core of the Milky Way may be sucking in matter from magnificent dust and gas clouds which obscure our view of the center.
A river of gas, 90 trillion miles long, has been found streaming into the center of the Milky Way. It could be fueling a prodigious black hole at the very heart of the galaxy, according to reports from astronomers who also suspect mini black holes and super-massive black holes are strewn across the Universe.
Quasars. A quasar is a quasi-stellar object, a powerful source of light and natural radio energy. Many have been seen.
They may be highly-luminous galaxies, extremely remote from Earth at the far distant edge of the known Universe, probably undergoing violent explosions.
They may be the most distant objects in the Universe. Quasars are billions of lightyears from Earth, racing farther away at 150,000 miles per second. In their wake, they leave huge quantities of light and other radiation.
Even though they seem smaller than galaxies, some emit 100 times as much energy as common galaxies. They may be violently exploding gala
xies or the cores of very active galaxies.Lightyear
A lightyear is the distance light travels through space in one year.
One lightyear is about 5.87 trillion miles or 9.46 trillion kilometers.
More about time »
Largest? Observers at the Royal Astronomical Society, London, recently found a cluster of quasars which may be the largest object ever known in the Universe.
The elongated group of 10 to 13 quasars was spotted at a distance of 6.5 billion lightyears from Earth. The cluster measures 650 million lightyears long by 100 million lightyears wide.
Most luminous? British astronomers also have seen what may be the most luminous object ever seen, a massive quasar hiding in a dust cloud at the far edge of the Universe 16 billion lightyears from Earth.
The mysterious body pumps out huge amounts of energy – 300 trillion times more than the Sun and 30,000 times more than our Milky Way galaxy.
Some astronomers suggest the exploding giant originally may have formed into a galaxy shortly after the beginning of time in a Big Bang, itself an explosion which some say created the Universe.
Some say the Universe is only 15-20 billion years old. At 16 billion lightyears from Earth, the puzzling object would be 80 percent of the way back to the Big Bang.
Finding the oldest galaxy has become the Holy Grail of astronomy, one astronomer has said.
RESOURCE: Space Almanac, Second Edition
Black Holes

A view of the central region of the Perseus galaxy cluster, one of the most massive objects in the universe, shows the effects that a relatively small but supermassive black hole can have millions of miles beyond its core. Astronomers studying this photo, taken by the Chandra X-ray Observatory, determined that sound waves emitted by explosive venting around the black hole are heating the surrounding area and inhibiting star growth some 300,000 light-years away. "In relative terms, it is as if a heat source the size of a fingernail affects the behavior of a region the size of Earth," said Andrew Fabian of Cambridge University.
Photograph courtesy NASA/CXC/IoA/A. Fabian et al.
black hole

Apa yang terjadi jika dua galaksi bergabung? Bagaimana dengan lubang hitam supermasif yang ada di pusat kedua galaksi tersebut? Bayangkan bagaimana gaya yang akan dilepaskan saat dua lubang hitam dengan massa ratusan juta massa Matahari bergabung. Kejadian ini bisa saja diamati dari Bumi, jika kita memang tahu apa yang sednag kita cari.Sebagian besar Galaksi di Alam Semesta ini memiliki lubang hitam supermasif. Beberapa lubang hitam yang paling besar bisa memiliki massa ratusan juta bahkan miliaran massa Matahari. Dan area disektar lubang hitam tersebut akan menjadi sangat ekstrim. Bahkan para ilmuwan juga memprediksikan dengan teori relativitas Einstein kalau lubang hitam tersebut berputar dengan laju maksimum.
Saat dua galaksi bergabung, lubang hitam supermasif yang ada di kedua galaksi itu tentu akan berinteraksi. Bisa saja interaksi tersebut melalui sebuah tabrakan, atau mungkin dari gerak spiral ke dalam sampai mereka mengalami penyatuan (merger). Menarik bukan?
Berdasarkan simulasi yang dilakukan G. A Shields dari University of Texas, Austin dan E. W. Banning dari Yale University, hasil penyatuan tersebut seringnya merupakan gerakan mundur yang sangat kuat. Dalam proses penggabungan ini, lubang hitam tersebut bukannya mengalami proses penggabungan yang manis, namun gaya yang muncul sangat ekstrim sehingga salah satu lubang hitam akan terdorong keluar dengan kecepatan yang sangat besar.
Dorongan maksimum terjadi pada kedua lubang hitam saat mereka berputar dengan arah yang berbeda, namun keduanya berada pada bidang orbit yang sama. Dalam fraksi hanya satu detik, satu lubang hitam sudah mendapat dorongan yang cukup untuk keluar dari galaksi yang baru saja bersatu dan tak pernah kembali lagi. Saat satu lubang hitam mengalami dorongan, yang lainnya akan menerima energi yang amat besar, terinjeksi ke dalam piringan gas dan debu disekitarnya. Piringan akresi akan bersinar dengan flare sinar X tipis dan baru akan berakhir beberapa ribu tahun.
Nah, meskipun kejadian merger atau penggabungan lubang hitam supermaif itu sangat jarang, kecerlangan yang ditimbulkannya akan berakhir dalam waktu yang cukup lama sehingga bisa kita deteksi sejumlah kejadian yang pernah terjadi. Menurut para peneliti, ada sekitar 100 gerakan mundur yang tiba-tiba yang terjadi dalam 5 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Lubang Hitam

Lubang Hitam
Abad ke-20 menyaksikan banyak sekali penemuan baru tentang peristiwa alam di ruang angkasa. Salah satunya, yang belum lama ditemukan, adalah Black Hole [Lubang Hitam]. Ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam dirinya sendiri, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan tak hingga dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat. Kita tidak mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak mampu melepaskan diri darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu dapat diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya. Di surat Al Waaqi'ah, Allah mengarahkan perhatian pada masalah ini sebagaimana berikut, dengan bersumpah atas letak bintang-bintang:
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (QS. Al Waaqi'ah, 56: 75-76)
Istilah "lubang hitam" pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel tercepat, seperti foton [partikel cahaya]. Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil)! Lubang hitam berwarna "hitam", yang berarti tertutup dari pengamatan langsung. Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah tentang lubang hitam ini:
Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan (QS. Al Mursalaat, 77: 8)
Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun, lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah firman Allah:
Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
PULSAR: BINTANG BERDENYUT
Demi langit dan Ath Thaariq, tahukah kamu apakah Ath Thaariq? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (QS. At Thaariq, 86: 1-3)
Pulsar adalah sisa-sisa bintang padam yang memancarkan gelombang radio teramat kuat yang menyerupai denyut, dan yang berputar pada sumbunya sendiri dengan sangat cepat. Telah dihitung bahwa terdapat lebih dari 500 pulsar di galaksi Bima Sakti, yang di dalamnya terdapat Bumi kita.
Kata "Thaariq," nama surat ke-86, berasal dari akar kata "tharq," yang makna dasarnya adalah memukul dengan cukup keras untuk menimbulkan suara, atau menumbuk. Dengan mempertimbangkan arti yang mungkin dari kata tersebut, yakni "berdenyut/berdetak," "memukul keras," perhatian kita mungkin diarahkan oleh ayat ini pada sebuah kenyataan ilmiah penting.
Sebelum menelaah keterangan ini, marilah kita lihat kata-kata selainnya yang digunakan dalam ayat ini untuk menggambarkan bintang-bintang ini. Istilah "ath-thaariqi" dalam ayat di atas berarti sebuah bintang yang menembus malam, yang menembus kegelapan, yang muncul di malam hari, yang menembus dan bergerak, yang berdenyut/berdetak, yang menumbuk, atau bintang terang. Selain itu, kata "wa" mengarahkan perhatian pada benda-benda yang digunakan sebagai sumpah – yakni, langit dan Ath Thaariq.
Melalui penelitian oleh Jocelyn Bell Burnell, di Universitas Cambridge pada tahun 1967, sinyal radio yang terpancar secara teratur ditemukan. Namun, hingga saat itu belumlah diketahui bahwa terdapat benda langit yang berkemungkinan menjadi sumber getaran atau denyut/detak teratur yang agak mirip pada jantung. Akan tetapi, pada tahun 1967, para pakar astronomi menyatakan bahwa, ketika materi menjadi semakin rapat di bagian inti karena perputarannya mengelilingi sumbunya sendiri, medan magnet bintang tersebut juga menjadi semakin kuat, sehingga memunculkan sebuah medan magnet pada kutub-kutubnya sebesar 1 triliun kali lebih kuat daripada yang dimiliki Bumi. Mereka lalu paham bahwa sebuah benda yang berputar sedemikian cepat dan dengan medan magnet yang sedemikian kuat memancarkan berkas-berkas sinar yang terdiri dari gelombang-gelombang radio yang sangat kuat berbentuk kerucut di setiap putarannya.
Tak lama kemudian, diketahui juga bahwa sumber sinyal-sinyal ini adalah perputaran cepat dari bintang-bintang neutron. Bintang-bintang neutron yang baru ditemukan ini dikenal sebagai "pulsar." Bintang-bintang ini, yang berubah menjadi pulsar melalui ledakan supernova, tergolong yang memiliki massa terbesar, dan termasuk benda-benda yang paling terang dan yang bergerak paling cepat di ruang angkasa. Sejumlah pulsar berputar 600 kali per detik.1
Kata "pulsar" berasal dari kata kerja to pulse . Menurut kamus American Heritage Dictionary, kata tersebut berarti bergetar, berdenyut. Kamus Encarta Dictionary mengartikannya sebagai berdenyut dengan irama teratur, bergerak atau berdebar dengan irama teratur yang kuat. Lagi menurut Encarta Dictionary, kata " pulsate ", yang berasal dari akar yang sama, berarti mengembang dan menyusut dengan denyut teratur yang kuat.
Menyusul penemuan itu, diketahui kemudian bahwa peristiwa alam yang digambarkan dalam Al Qur'an sebagai "thaariq," yang berdenyut, memiliki kemiripan yang sangat dengan bintang-bintang neutron yang dikenal sebagai pulsar.
Bintang-bintang neutron terbentuk ketika inti dari bintang-bintang maharaksasa runtuh. Materi yang sangat termampatkan dan sangat padat itu, dalam bentuk bulatan yang berputar sangat cepat, menangkap dan memampatkan hampir seluruh bobot bintang dan medan magnetnya. Medan magnet amat kuat yang ditimbulkan oleh bintang-bintang neutron yang berputar sangat cepat ini telah dibuktikan sebagai penyebab terpancarnya gelombang-gelombang radio sangat kuat yang teramati di Bumi.
Di ayat ke-3 surat Ath Thaariq istilah "an najmu ats tsaaqibu," yang berarti yang menembus, yang bergerak, atau yang membuat lubang, mengisyaratkan bahwa Thaariq adalah sebuah bintang terang yang membuat lubang di kegelapan dan bergerak. Makna istilah "adraaka" dalam ungkapan "Tahukah kamu apakah Ath Thaariq itu?" merujuk pada pemahaman. Pulsar, yang terbentuk melalui pemampatan bintang yang besarnya beberapa kali ukuran Matahari, termasuk benda-benda langit yang sulit untuk dipahami. Pertanyaan pada ayat tersebut menegaskan betapa sulit memahami bintang berdenyut ini. (Wallaahu a'lam)
Sebagaimana telah dibahas, bintang-bintang yang dijelaskan sebagai Thaariq dalam Al Qur'an memiliki kemiripan dekat dengan pulsar yang dipaparkan di abad ke-20, dan mungkin mengungkapkan kepada kita tentang satu lagi keajaiban ilmiah Al Qur'an.
BINTANG SIRIUS (SYI'RA)
Bintang Sirius [Syi’ra] muncul di Surat An Najm (yang berarti "bintang"). Bintang ganda yang membentuk bintang Sirius ini saling mendekat dengan sumbu kedua bintang itu yang berbentuk busur setiap 49,9 tahun sekali. Peristiwa alam tentang bintang ini diisyaratkan dalam ayat ke-9 dan ke-49 dari Surat An Najm.
Ketika pengertian-pengertian tertentu yang disebutkan dalam Al Qur'an dikaji berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah abad ke-21, kita akan mendapati diri kita tercerahkan dengan lebih banyak keajaiban Al Qur'an. Salah satunya adalah bintang Sirius (Syi'ra), yang disebut dalam surat An Najm ayat ke-49:
… dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi'ra (QS. An Najm, 53: 49)
Kenyataan bahwa kata Arab "syi'raa," yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya berarti "bintang") ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakteraturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya adalah sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius B. Yang lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat ke Bumi dan bintang paling terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong.
Bintang ganda Sirius beredar dengan lintasan berbentuk bulat telur mengelilingi satu sama lain. Masa edar Siri
us A dan B mengelilingi titik pusat gravitasi mereka yang sama adalah 49,9 tahun. Angka ilmiah ini kini diterima secara bulat oleh jurusan astronomi di universitas Harvard, Ottawa dan Leicester.2 Keterangan ini dilaporkan dalam berbagai sumber sebagai berikut:Sirius, bintang yang paling terang, sebenarnya adalah bintang kembar… Peredarannya berlangsung selama 49,9 tahun. 3
Sebagaimana diketahui, bintang Sirius-A dan Sirius-B beredar mengelilingi satu sama lain melintasi sebuah busur ganda setiap 49,9 tahun. 4
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah garis edar ganda berbentuk busur dari dua bintang tersebut yang mengitari satu sama lain.
Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam Al Qur'an 1.400 tahun lalu. Ketika ayat ke-49 dan ke-9 dari surat An Najm dibaca secara bersama, keajaiban ini menjadi nyata:
dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi'ra (QS. An Najm, 53: 49)
maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (QS. An Najm, 53: 9)
Penjelasan dalam Surat An Najm ayat ke-9 tersebut mungkin pula menggambarkan bagaimana kedua bintang ini saling mendekat dalam peredaran mereka. (Wallaahu a'lam). Fakta ilmiah ini, yang tak seorang pun dapat memahami di masa pewahyuan Al Qur'an, sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur'an adalah firman Allah Yang Mahakuasa.
Daftar pustaka:
1. Double Pulsar Found," January 9, 2004; www.atnf.csiro.au/news/press/double_pulsar/
2. Leicester edu dept of Physics & astronomy; www.star.le.ac.uk/astrosoc/whatsup/stars.html; University of Ottowa;
www.site.uottawa.ca:4321/astronomy/index.html#Sirius; Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics;
http://cfa-www.harvard.edu/~hrs/ay45/Fall2002/ChapterIVPart2.pdf
3. "Exposes Astronomiques, La troisième loi de KEPLER;" http://www.astrosurf.com/eratosthene/HTML/exposetheoastro.htm
4. http://www.dharma.com.tr/dkm/article.php?sid=87
Sabtu, 20 Desember 2008
Maunder Crater, Mars
This image shows the striking Maunder crater located in the region of Noachis Terra on Mars. The High Resolution Stereo Camera (HRSC) on ESA’s Mars Express took pictures of this region on November 29 and December 14, 2005. Named after British astronomer Edward W. Maunder, the crater is located halfway between Argyre Planitia and Hellas Planitia on the southern Highlands of Mars. With a diameter of 90 kilometres and a depth of nearly 900 metres, the crater is not one of the largest impact craters on Mars, but it was much deeper in the past. It has since been filled partially with large amounts of material. The perspective view shown here has been calculated from the digital terrain model derived from the camera’s stereo channels.
venus

Transits of Venus are possible because the planet's orbit around the Sun is inside that of Earth. Venus Transits occur in pairs, with the second coming eight years after the first. But the pair events are separated by either 105.5 or 121.5 years.
Planet Venus
Venus is the only planet in the Solar System to turn in a clockwise direction on its axis, and it does this very slowly, taking 243 Earth days to do so. The "day" on Venus is even longer than a year on Venus, which is 225 Earth days long. Venus is covered in poisonous clouds containing sulphuric acid, and an atmosphere containing dangerous carbon monoxide.
In 1990-1994 the special imaging equipment on the Magellan space craft managed to look through the clouds to reveal a volcanic surface of the planet. Temperatures on Venus reach up to 480°C because heat from the Sun cannot escape through the thick atmosphere, which acts like a greenhouse covering the entire planet.
Sun-Earth Distance
Jeremiah Horrocks used his observations to estimate the distance between the Earth and the Sun - his calculation of 59,000,000 miles was far from the true number but much closer than any previous numbers. Still in the 17th century Rev. James Gregory and Sir Edmund Halley suggested that a more accurate measurement of the Earth-Sun distance could be made using the Transit of Venus from different places. In 1761 and 1769 the distance was computed to 93,000,000 miles. The photographs taken in 1882 were used in the following years to difficult but more detailed calculations of the Sun-Earth distance to 92,702,000 miles (Simon Newcomb), resp. 92,797,000 (William Harkness). The Transit of 2004 can be used for getting more precise number.
Long time ago in Egypt scientists tried to work out distances in space by measuring shadows in different places. Similar methods are used today. During the Transit Venus enters the Sun's disc in various times according to the position of the observer. Comparison of these times makes it possible to calculate the distance from the Earth to the Sun.
One of the most identifiable nebulae in the sky, the Horsehead Nebula in Orion, is part of a large, dark, molecular cloud. Also known as Barnard 33, the unusual shape was first discovered on a photographic plate in the late 1800s. The red glow originates from hydrogen gas predominantly behind the nebula, ionized by the nearby bright star Sigma Orionis. A blue reflection nebula surrounds the bright star at the lower left. The darkness of the Horsehead is caused mostly by thick dust, although the lower part of the Horsehead's neck casts a shadow to the left. Streams of gas leaving the nebula are funneled by a strong magnetic field. Bright spots in the Horsehead Nebula's base are young stars just in the process of forming. Light takes about 1500 years to reach us from the Horsehead Nebula. The above image was taken earlier this month with a 0.6-meter telescope at the Mt. Lemmon SkyCenter in Arizona, USA.
Sabtu, 06 Desember 2008
senyum
Sayang.. langit Jogja agak mendung sore ini. Walau hanya sempat menyaksikan beberapa menit sebelum tertutup oleh mendung tebal di Langit Barat, tapi syukurlah masih sempat ngambil beberapa jepretan peristiwa konjungsi Bulan-Jupiter-Venus yang nampak cantik dan sempat membuat beberapa tetangga sekitar juga ikutan memperhatikan. Ih... kaya wong ngguyu... ya... katanya. Subhanallah... Langitpun Bisa Tersenyum.
meteorit
window.google_render_ad();
Tentang kilatan cahaya di langit Parangtritis. Kebetulan Jogja Astro Club (JAC) sempat juga mengobservasinya. Dan sejauh ini disimpulkan itu murni fenomena langit, berupa masuknya meteor cemerlang yang disebut fireball yang kemungkinan besar merupakan bagian dari hujan meteor (shower) tahunan Delta Aquarids. Berikut tulisannya :
MISTERI KILATAN CAHAYA DI LANGIT YOGYA
Muh. Ma’rufin Sudibyo
Pada hari Rabu, 26 Juli 2006 pukul 19 : 30 WIB, sebagian penduduk Yogya dan Bantul dikejutkan dengan fenomena misterius munculnya kilatan cahaya terangyang bergerak cepat. Tak lama kemudian terdengar dua kali suara dentuman. Kilatan cahaya terang muncul dari arah timur menuju ke barat dan meninggalkan jejak asap panjang kebiruan yang lambat laun menghilang setelah dua menit. Berbagai pendapat sempat mengemuka. Ada yang menganggapnya sebagai pertanda bakal terjadinya bencana (baru). Ada pula yang menganggapnya sebagai pesan dari penguasa laut selatan. Bahkan ada juga yang menganggapnya sebagai sisa-sisa pesawat antariksa yang sedang jatuh ke Bumi.
Sejumlah astronom amatir kota Yogyakarta yang terhimpun dalam Jogja Astro Club (JAC) juga sempat mengamati fenomena ini saat menyelenggarakan acara stargazing (observasi langit malam) di pantai Parangkusumo, setelah sore harinya berupaya mengamati kemunculan hilal (bulan sabit) sebagai tanda pergantian Bulan dalam sistem kalender qomariyah.Kilatan cahaya itu dilaporkan melintasi titik zenith Parangkusumo dan demikian cemerlang sehingga kawasan pantai yang semula gelap gulita mendadak jadi terangbenderang. Kilatan cahaya yang sama juga dilaporkan teramati di tempat yang berjarak 40 km dari lokasi observasi JAC.
Fireball
Kilatan cahaya, jejak asap kebiruan dan suara dentuman adalah ciri khas munculnya meteor cemerlang atau fireball, akibat masuknya meteoroid besar ke dalam atmosfer. Jika pada umumnya meteor terlihat sebagai kilatan cahaya redup dengan kecemerlangan (magnitude) tidak melebihi terangnya bintang-bintang disekitarnya,maka fireball memiliki kecemerlangan cukup besar sehingga melebihi terangnya planet Venus, benda langit paling cemerlang setelah Matahari dan Bulan purnama.Menurut American Meteor Society (2004) sebuah meteor bisa disebut fireball jika memiliki kecemerlangan minimal - 4, yang akan muncul sekali tiap 20 jam (rata-rata).
Badan Ruang Angkasa AS (NASA) mengestimasikan setiap hari tak kurang dari 30.000 ton meteoroid di angkasa ditarik paksa masuk ke atmosfer oleh gravitasi Bumi. Gesekannya dengan molekul-molekul udara membuat meteoroid terpanaskan hebat hingga berpijar, bahkan menguap. Hal ini terjadi pada ketinggian 80 - 120 kmdari permukaan Bumi. Meteor tersebut memiliki kecepatan gerak cukup tinggi, 11 - 72 km/detik.Sebagai pembanding kendaraan tercepat yang pernah dibuat manusia, yakni roket, ” hanya ” memiliki kecepatan 7,8 km/detik.
Bila sebagian besar meteor memiliki massa amat kecil (1 - 2 gram) dengan dimensi seukuran butir pasir, tidak demikian dengan fireball. Massanya ratusan kali lebih besar dengan dimensi menyamai sebuah batu kecil.Lintasan yang ditempuh fireball pun jauh lebih panjang dari meteor dan selalu meninggalkan jejak khas berbentuk asap lurus dibelakangnya dengan panjang bisamencapai puluhan kilometer meski lebarnya paling banter hanya duapuluh meter.
Ada dua jenis jejak : smoke trail dan train. Smoke trail hanya nampak di siang hari, muncul saat ketinggian fireball sudah di bawah 80 km akibat terjadinya proses ablasi. Proses ablasi menyemprotkan debu-debu dari permukaan fireball, yang kemudianbergerombol dibelakangnya membentuk jejak panjang. Sekilas smoke trail mirip dengan awan contrail (awan produk asap gas buang mesin jet) atau awan lurus yangbelakangan dihebohkan sebagai pertanda gempa. Sebaliknya, train hanya nampak di malam hari dan hanya menyertai fireball yang sangat cepat. Train terbentuk di ketinggian lebih dari 80 km oleh ionisasi dan eksitasi molekul-molekul udara setempat akibat gesekannya dengan fireball, sehingga timbul foton-foton cahaya dengan warna yang khas.
Suara dentuman terdengar bila fireball berhasil menembus batas ketinggian 50 km dan mulai memasuki lapisan stratosfer. Oleh kecepatan fireball yang sangat tinggi hingga jauh melampaui kecepatan suara, timbul dentuman supersonik (sonic boom), seperti yang terjadi pada jet-jet tempur generasi terbaru ketika dipacu hingga mencapai kecepatan maksimalnya. Untuk fireball dentuman supersonik hanya bisa terjadi bila kecemerlangannya minimal - 8 dan lintasan fireball membentuk sudut 45 derajat terhadap permukaan Bumi. Karena cepat rambat gelombang suara ” hanya ” 20 km/menit, dentuman supersonik baru terdengar 1,5 - 4 menit kemudian.
Sehingga dengan ciri-ciri ini, kilatan cahaya di langit Yogya bisa dikategorikan sebagai fireball. Fireball Yogya bergerak sangat cepat dengan lintasan membentuk sudut 45 derajat terhadap permukaan Bumi dan memiliki kecemerlangan minimal - 8 atau 40 kali lipat lebih terang dari planet Venus. Menurut NASA, cahaya dari benda langit yang sama cemerlangnya dengan Venus mampu membentuk bayang-bayang dari benda yang tersinarinya. Maka mudah saja fireball Yogya membuat Parangkusumo benderang untuk sesaat. American Meteor Society bahkan menyebutkan fireball dengan magnitude visual melebihi - 8 bisa terlihat dengan jelas di siang hari. Warna kebiruan pada jejaknya menunjukkan kandungan Magnesium dalam fireball.
Asal Muasal
Meteoroid yang masuk ke Bumi berasal dari tiga sumber : pecahan asteroid, pecahan komet yang terserak di sepanjang orbitnya dan batuan permukaan Mars/Bulan yang dilontarkan ke angkasa oleh hantaman asteroid raksasa berjuta-juta tahun silam. Mayoritas meteor (95 %) berasal dari pecahan komet dan memiliki kecepatan sangat tinggi sehingga tak pernah sampai di permukaan Bumi. Sebaliknya, meteor dari pecahan asteroid dan batuan Mars/Bulan memiliki kecepatan rendah sehingga bisa sampai ke permukaan Bumi dengan menyisakan meteorit. Populasi meteorit dari batuan Mars/Bulan sangat jarang, namun menjadi demikian berharga karena kerapkali mengandung informasi penting. Pada tahun 1984 di bukit es Alan Hills (Antartika) pernah ditemukan sebutir meteorit dari batuan Mars dan 12 tahun kemudian membikin heboh, karena diketahui mengandung untaian butir-butir berjajar yang mirip mikrofossil di Bumi.
Dari simulasi pemandangan langit malam di Parangkusumo dan sekitarnya menggunakan software Moon Calculator v 6.0, didapatkan tepat di langit timur sedang muncul gugusan bintang Aquarius. Menurut American Meteor Society, tiap tahun di gugusan bintang ini terjadi hujan meteor Delta Aquarids, dengan puncaknya pada 28 - 29 Juli dalam jumlah 20 meteor / jam. Namun manusia di perkotaan hanya bisa menyaksikan 5 meteor saja per jam. Plotting arah kedatangan fireball Yogya konsisten dengan posisi Aquarius, sehingga fireball Yogya adalah bagian dari hujan meteor Delta Aquarids.
Meteorit
Fireball seterang fireball Yogya muncul setiap 2.000 jam (rata-rata). Namun sedikit sekali yang bisa disaksikan manusia mengingat sebagian besar permukaan Bumi tidak berpenghuni. Di Indonesia laporan kemunculan fireball terakhir terjadi pada 19 Desember 2004 pukul 07 : 30 WIB di atas Jakarta, Bogor dan Tangerang. Sementara fireball terakhir yang menyisakan meteorit terjadi di atas Sungai Silandak, Pontianak (April 2003).
Munculnya fireball tak perlu dikhawatirkan. Sebab meski bisa sampai ke permukaan Bumi namun meteorit yang disisakannya berukuran kecil dan kecepatannya cukup lambat, sehingga tidak bisa menghasilkan kerusakan besar. Sejauh ini hanya ada satu catatan peristiwa munculnya fireball yang merugikan, yakni ketika seekor sapi di peternakan el-Tinajero, Valera (Venezuela) ditemukan tewas pada 15 Oktober 1972. Di sampingnya tergeletak tiga buah meteorit, masing-masing seberat 38 kg, 8 kg dan 4 kg.
Dalam tradisi Jawa, fireball sering dinamakan ndaru dan dianggap sebagai ” wahyu ” bagi seorang calon pemimpin. Berbeda dengan kemunculan ” saudaranya ” : komet, yang dianggap sebagai pertanda akan datangnya marabahaya meski hal itu tak pernah bisa dibuktikan.Sementara tradisi Islam menganggap meteor (dan fireball) adalah panah-panah berapi yang dilepaskan malaikat guna mengusir setan-setan yang bergentayangan di langit
Jadi, kilatan cahaya di langit Yogya bukanlah misteri. Itu adalah fireball, murni fenomena alami di langit dan tidak membahayakan. Sehingga tidak berkait dengan akan datangnya bencana. Enam hari pasca munculnya fireball Yogya, hal yang sama juga terjadi di atas langit Kutch, Gujarat (India bagian barat). Bahkan di Kutch fireball-nya bisa sampai ke permukaan Bumi dan menyisakan meteorit-meteorit yang kini menjadi bahan perburuan banyak pihak.
Referensi :The American Meteor Society; 2001; Frequently Asked Questions (FAQ) about Fireballs and Meteorite Dropping Fireballs;http://www.amsmeteors.org/fireball/faqf.html.
Rovicky Note, disebelah ini saya lampirkan gambar fireball di siang hari yg ditangkap oleh seseorang yg “beruntung” menangkap fenomena langka. This spectacular daytime fireball meteor was captured by Jon Burnett, a teenager from South Wales, UK
meteor
LLOYDMINSTER, JUMAT — Para ilmuwan mengklaim telah menemukan serpihan meteor yang bercahaya terang melintas di langit sebelum akhirnya jatuh di wilayah Kanada pada awal bulan ini.Seperti dilaporkan AP, Sabtu (29/11), ilmuwan dari Universitas Calgary, Alan Hildebrand, dan seorang lulusannya Ellen Milley menemukan sejumlah serpihan meteor di dekat Battle River sepanjang daerah perbatasan Alberta-Saskatchewan, dekat kota Lloydminster akhir Kamis kemarin.Mereka mengatakan, kemungkinan terdapat ribuan serpihan meteorit yang tercecer di daerah seluas 18 kilometer persegi yang tersebut merupakan wilayah dataran tandus dan tidak berpenghuni. Penduduk di daerah Manitoba, Saskatchewan, dam Alberta sempat dibuat terpesona oleh fenomena benda langit bercahaya yang menerangi langit di tiga provinsi tersebut pada 20 November lalu. Saksi mata melaporkan mereka mendengar suara dentuman sonik yang bergemuruh dan kilatan yang menyala seterang matahari.Hildebrand, yang juga bertugas memantau pemunculan meteor bersama Badan Antariksa Kanada, memperkirakan meteor tersebut dapat terlihat dari jarak sejauh 434 mil (698 kilometer) hingga ke wilayah Utara Amerika Serikat
Minggu, 30 November 2008
Daftar segera sebagai anggota genk saintis
kirimkan profil anda ke:rid_zeager@yahoo.co.id


_planets.jpg)


